Gus Yahya Sebut Daftar Tokoh Terkorup Dunia Versi OCCRP Sebagai Kampanye Politik

646ef2171473f

JAKARTA, 20CARD.COM – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf, atau akrab disapa Gus Yahya, memberikan tanggapan atas daftar tokoh terkorup dunia yang dirilis oleh Organized Crime and Corruption Reporting Project (OCCRP). Daftar tersebut menuai kontroversi karena mencantumkan nama Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), sebagai salah satu tokoh paling korup di dunia.

“Saya kira, apa namanya, sejauh ini saya pribadi melihatnya sebagai bagian dari semacam kampanye politik saja, entah itu tujuan pertarungan apa,” ujar Gus Yahya saat ditemui di Kantor PBNU, Jakarta, Jumat (3/1/2025).


Kredibilitas OCCRP Dipertanyakan

Gus Yahya tidak hanya mengkritisi tujuan politik di balik daftar tersebut, tetapi juga mempertanyakan kredibilitas OCCRP dalam menyusun nominasi tokoh yang dianggap paling korup. Menurutnya, OCCRP perlu memberikan penjelasan yang lebih transparan mengenai metode pengumpulan data dan parameter yang digunakan untuk membuat penilaian tersebut.

“Saya juga bertanya-tanya, apa sih kredibilitas OCCRP? Siapa yang mereka dengar, apa yang menjadi rujukan mereka, hingga bisa menyatakan bahwa seseorang itu tokoh paling korup? Itu harus jelas,” tegas Gus Yahya.


Sorotan terhadap Publikasi OCCRP

Organized Crime and Corruption Reporting Project (OCCRP) adalah organisasi jurnalisme investigasi yang kerap merilis laporan terkait kejahatan terorganisir dan korupsi. Namun, publikasi terbaru mereka yang mencantumkan nama Jokowi dalam daftar tokoh terkorup dunia menuai kritik tajam, terutama dari masyarakat Indonesia.

Banyak pihak menilai bahwa laporan tersebut tidak hanya mencederai reputasi pribadi Jokowi, tetapi juga membawa dampak buruk pada citra Indonesia di kancah internasional. Beberapa tokoh nasional mendesak agar laporan tersebut diteliti lebih lanjut guna memastikan keabsahannya.


PBNU Tegaskan Sikap Netral

Sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, PBNU menegaskan sikapnya yang netral terhadap kontroversi ini. Namun, Gus Yahya mengimbau masyarakat untuk lebih kritis dan tidak langsung mempercayai informasi yang belum jelas sumber dan kebenarannya.

“Kita harus hati-hati. Jangan sampai kita termakan isu atau kampanye politik yang tidak berdasar, apalagi jika itu digunakan untuk menyerang orang lain,” kata Gus Yahya.


Panggilan untuk Klarifikasi

Sejumlah politisi dan pengamat juga mendesak agar OCCRP memberikan klarifikasi resmi terkait alasan mencantumkan nama Presiden Jokowi dalam daftar tersebut. Mereka menilai bahwa tanpa penjelasan rinci, laporan ini bisa menjadi alat propaganda yang merugikan pihak tertentu.

Di sisi lain, Istana Kepresidenan melalui Juru Bicara Presiden, memastikan bahwa pemerintah akan mempelajari laporan tersebut secara mendalam dan mempertimbangkan langkah-langkah hukum jika diperlukan.


Kesimpulan

Kontroversi daftar tokoh terkorup dunia versi OCCRP terus menjadi perbincangan hangat di Tanah Air. Gus Yahya mengajak masyarakat untuk tetap tenang dan bijak dalam menanggapi isu ini, seraya menegaskan pentingnya kredibilitas dan transparansi dalam setiap laporan yang memengaruhi reputasi tokoh maupun negara.