20card.com,25 APRIL 2025
Penulis: Riyan Wicaksono
Editor: Muhammad Kadafi
Tim Redaksi: Diplomasi Internasional Perusahaan Victory88

Perang Irak-Iran, yang berlangsung selama hampir delapan tahun dari 1980 hingga 1988, adalah salah satu konflik militer paling panjang dan berdarah dalam sejarah modern. Konflik ini tidak hanya melibatkan dua negara besar di Timur Tengah, Irak dan Iran, tetapi juga dipengaruhi oleh sejumlah faktor yang lebih luas, termasuk politik internasional, ideologi, ambisi teritorial, dan pertarungan ideologis. Dalam artikel ini, kita akan menyelidiki secara lebih mendalam penyebab-penyebab utama terjadinya Perang Irak-Iran, termasuk latar belakang sejarah, politik, ekonomi, dan dinamika internasional yang berperan dalam memicu perang tersebut.
1. Sengketa Teritorial: Sungai Shatt al-Arab sebagai Titik Perpecahan

Salah satu faktor utama yang memicu perang ini adalah sengketa teritorial yang sudah berlangsung lama, khususnya mengenai wilayah perairan di sepanjang Sungai Shatt al-Arab. Sungai ini, yang mengalir dari pertemuan Sungai Tigris dan Efrat hingga Teluk Persia, merupakan jalur air strategis bagi kedua negara karena menghubungkan wilayah pedalaman dengan lautan dan memiliki peran krusial dalam perdagangan internasional, khususnya untuk ekspor minyak. Mengingat pentingnya jalur perdagangan ini, kontrol atas wilayah perairan Shatt al-Arab menjadi sumber ketegangan antara kedua negara.
Pada tahun 1975, meskipun Irak dan Iran menandatangani Perjanjian Algiers yang menyepakati pembagian wilayah perairan Shatt al-Arab berdasarkan prinsip 50:50, perjanjian ini tidak bertahan lama. Pemerintah Irak di bawah Saddam Hussein merasa bahwa perjanjian tersebut merugikan negara mereka karena memberi Iran kontrol lebih besar atas salah satu jalur perdagangan penting. Perjanjian tersebut menambah ketidakpuasan Irak, yang kemudian memutuskan untuk menggugat kesepakatan itu dan mencari cara untuk merebut kendali lebih besar atas kawasan tersebut. Setelah Revolusi Iran, yang menggulingkan Shah Reza Pahlavi dan mendirikan pemerintahan Islam, Saddam Hussein melihat kesempatan untuk mengambil alih wilayah yang disengketakan ini dengan serangan militer.
2. Revolusi Iran 1979 dan Perubahan Tatanan Politik di Timur Tengah

Revolusi Iran yang berlangsung pada tahun 1979 tidak hanya mengubah pemerintahan di Iran, tetapi juga mengubah keseimbangan geopolitik di Timur Tengah. Revolusi yang dipimpin oleh Ayatollah Ruhollah Khomeini menggulingkan rezim monarki Shah Reza Pahlavi, yang pada waktu itu bersekutu dengan kekuatan Barat, khususnya Amerika Serikat. Khomeini mendirikan sebuah pemerintahan yang berdasarkan pada prinsip-prinsip Islamisme, menggantikan sistem pemerintahan sekuler yang sebelumnya diterapkan oleh Shah.
Khomeini tidak hanya memfokuskan perhatiannya pada perubahan dalam negeri, tetapi juga berusaha untuk mengekspor revolusinya ke negara-negara lain di dunia Muslim. Dalam pidato-pidatonya, Khomeini menyerukan penghancuran pemerintahan sekuler dan tirani di dunia Islam dan mendukung pembentukan negara-negara yang berbasis pada hukum Islam (syariah). Gagasan ini mengancam stabilitas negara-negara di sekitar Iran, terutama di dunia Arab, yang banyak di antaranya memerintah dengan sistem sekuler atau monarkis.
Bagi Saddam Hussein, yang memimpin negara sekuler Ba’ath di Irak, ideologi yang dipromosikan oleh Khomeini sangat mengancam keberadaan rezimnya. Pemerintah Irak khawatir bahwa revolusi Islam di Iran dapat menggugah kelompok-kelompok oposisi di dalam negeri, terutama kaum Syiah, yang secara historis berhubungan lebih dekat dengan Iran. Saddam juga merasa terancam oleh narasi revolusioner Khomeini yang dapat menginspirasi pemberontakan serupa di Irak, yang memiliki populasi Syiah yang signifikan.
Untuk melindungi dirinya dan menjaga stabilitas rezim Ba’ath, Saddam Hussein memutuskan untuk mengambil tindakan agresif terhadap Iran. Perang menjadi cara bagi Saddam untuk memperkuat kedudukannya di dunia Arab dan memastikan bahwa revolusi Iran tidak akan menginspirasi pergerakan oposisi di dalam negeri.
3. Ambisi Ekspansionis Saddam Hussein dan Keinginan untuk Memperkuat Posisi Irak
Saddam Hussein memandang Perang Irak-Iran sebagai kesempatan untuk memperluas pengaruh Irak di kawasan Teluk Persia dan Timur Tengah secara lebih luas. Setelah berkuasa pada tahun 1979, Saddam ingin menjadikan Irak sebagai negara dominan di dunia Arab. Namun, ia sadar bahwa untuk mencapai ambisi tersebut, Irak harus mengatasi tantangan yang datang dari Iran, negara yang saat itu memiliki pengaruh besar di kawasan tersebut, terlebih lagi setelah Revolusi Iran.
Saddam Hussein melihat Iran, yang saat itu tengah berada dalam kekacauan pasca-revolusi, sebagai negara yang lemah dan terbagi secara internal. Mengingat bahwa Iran sedang dalam proses memperkuat kembali pemerintahan baru dan tentara pasca-revolusi, Saddam Hussein merasa bahwa ini adalah saat yang tepat untuk mengambil keuntungan. Dalam pandangannya, menyerang Iran akan memungkinkan Irak untuk memaksakan kehendaknya, merebut wilayah yang disengketakan, dan menghapuskan ancaman revolusi Islam yang dipimpin Khomeini.
Selain itu, Irak memiliki kepentingan untuk mengendalikan wilayah sumber daya alam yang kaya di Iran, termasuk ladang-ladang minyak yang sangat vital bagi perekonomian kedua negara. Saddam juga berkeinginan untuk memanfaatkan potensi ekonomi dan militer Irak yang lebih kuat dibandingkan dengan Iran yang baru pasca-revolusi. Dengan memulai perang, ia berharap bisa menguasai lebih banyak wilayah dan memperkuat posisinya di dunia Arab.
4. Pertarungan Ideologi: Sekularisme Melawan Islamisme
Perbedaan ideologi antara kedua negara juga merupakan salah satu pendorong utama perang ini. Irak, di bawah kepemimpinan Saddam Hussein, menganut ideologi sekuler yang berfokus pada nasionalisme Arab dan sosialisme Ba’ath. Sedangkan, Iran di bawah Khomeini mengadopsi ideologi Islamisme yang mengutamakan penerapan hukum Islam (syariah) dan penghapusan pemerintahan sekuler di dunia Muslim.
Ideologi revolusioner Khomeini yang menginginkan ekspansi pemerintahan Islam ke negara-negara Arab dianggap sebagai ancaman langsung oleh negara-negara sekuler di kawasan itu, terutama Irak. Saddam Hussein, yang sangat bergantung pada kestabilan sekuler di Irak dan dunia Arab, merasa bahwa keberhasilan revolusi Islam Iran dapat menginspirasi kelompok-kelompok oposisi di dalam negeri yang menginginkan perubahan serupa.
Khomeini, di sisi lain, berusaha untuk menggugat tatanan politik yang ada di dunia Arab dan meyakini bahwa Irak harus diubah menjadi negara yang berbasis Islam. Keinginan untuk menyebarkan revolusi Islam ini mengarah pada ketegangan yang semakin dalam dengan Irak, yang memandangnya sebagai ancaman terhadap sistem pemerintahannya yang sekuler.
5. Perhitungan Militer dan Politik: Pengambilan Keputusan untuk Menyeran
Dalam perhitungan militer, Saddam Hussein memandang bahwa Iran sedang dalam kondisi yang cukup lemah untuk diserang. Pasca-revolusi, militer Iran belum sepenuhnya terorganisir dan negara tersebut berada dalam kekacauan politik. Meskipun memiliki populasi besar dan sumber daya alam yang melimpah, Iran tidak sepenuhnya siap menghadapi agresi besar-besaran dari Irak.
Saddam juga memandang bahwa dengan memulai perang, ia dapat meningkatkan citranya di dunia Arab dan memperkuat kepemimpinannya. Serangan ke Iran akan menunjukkan bahwa Irak adalah negara yang kuat dan dapat melindungi kepentingannya di kawasan. Selain itu, dengan memanfaatkan situasi yang tampak menguntungkan, Saddam berharap dapat memenangkan perang dengan cepat dan mengakhiri ketegangan dengan Iran.
Namun, meskipun Irak optimis pada awalnya, Iran berhasil membuktikan ketahanan luar biasa. Pasukan Iran, meskipun menghadapi kesulitan awal, menunjukkan perlawanan sengit melalui taktik perang gerilya dan mobilisasi rakyat, yang membuat perang ini berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan banyak pihak.
6. Dukungan Internasional: Politik Global dan Perang Dingin

Dalam konteks internasional, kedua negara memperoleh dukungan dari berbagai pihak, yang sebagian besar dipengaruhi oleh dinamika Perang Dingin dan kepentingan geopolitik global. Irak, yang didukung oleh negara-negara Arab seperti Arab Saudi dan Kuwait, juga mendapat dukungan logistik dan militer dari Amerika Serikat, yang melihat Iran sebagai ancaman pasca-revolusi dan berusaha untuk mengisolasi negara tersebut dari pengaruh internasional.
Di sisi lain, Iran, meskipun tidak mendapat dukungan besar dari kekuatan Barat, mendapat dukungan dari kelompok-kelompok militan Islam yang ada di dunia Islam. Meskipun demikian, Iran mengandalkan mobilisasi besar-besaran dari rakyat dan pasukan Revolusioner Iran untuk mempertahankan perlawanan, sementara Irak memperoleh bantuan dari negara-negara Barat dan negara-negara kaya di Teluk.
Penutupan: Dampak Perang dan Legasi Konflik
Perang Irak-Iran, yang berlangsung selama delapan tahun, telah menelan korban jiwa yang sangat besar, baik di pihak tentara maupun warga sipil. Jumlah kematian diperkirakan mencapai hampir satu juta orang, dengan banyaknya orang yang terluka dan hancurnya infrastruktur ekonomi kedua negara. Meskipun perang ini berakhir dengan gencatan senjata pada tahun 1988, tanpa ada pemenang yang jelas, dampaknya terasa hingga hari ini, baik di Irak maupun di Iran, serta di seluruh kawasan Timur Tengah.
Konflik ini menunjukkan betapa pentingnya dinamika internasional, ideologi, dan ambisi nasional dalam membentuk arah sejarah di Timur Tengah. Sebagai sebuah konflik besar yang dipengaruhi oleh sejumlah faktor yang saling terkait, Perang Irak-Iran memperlihatkan bagaimana ketegangan teritorial, politik, dan ideologis dapat mendorong negara-negara untuk terlibat dalam konflik besar yang berlarut-larut, yang akhirnya merugikan seluruh pihak yang terlibat.
BACA JUGA: Inilah yang Terjadi Jika Dajjal Bertemu Nabi Khidir di Akhir Zaman – Sejarah Islam
BACA JUGA: Tips Psikologis untuk Membaca Karakter seseorang: secara mendalam