Penulis: Riyan Wicaksono

Idul Fitri atau Lebaran adalah hari raya terbesar bagi umat Muslim yang dirayakan setelah menyelesaikan ibadah puasa Ramadan selama satu bulan penuh. Namun, penentuan tanggal perayaan Idul Fitri selalu menjadi perdebatan, karena terkait dengan penetapan awal bulan Syawal yang dihitung berdasarkan kalender Hijriyah. Di Indonesia, tanggal 1 Syawal ditentukan melalui berbagai metode perhitungan yang berbeda, tergantung pada pandangan organisasi atau lembaga yang merujuk pada perhitungan tersebut. Beberapa pihak yang terlibat dalam penetapan ini antara lain Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag).
Pada tahun 2025, tanggal Idul Fitri diperkirakan akan jatuh pada bulan Maret, namun tanggal pastinya bergantung pada hasil perhitungan astronomis dan rukyatul hilal yang dilakukan oleh berbagai lembaga tersebut. Artikel ini akan membahas secara detail bagaimana Muhammadiyah, NU, BRIN, dan pemerintah menentukan tanggal 1 Syawal 1446 Hijriyah atau Hari Raya Idul Fitri 2025.
1. Penetapan oleh Muhammadiyah

Muhammadiyah, sebagai organisasi Islam yang cukup besar di Indonesia, menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal dalam menentukan awal bulan Hijriyah. Hisab adalah metode perhitungan matematis untuk menghitung posisi hilal (bulan sabit) yang menandakan dimulainya bulan baru dalam kalender Hijriyah. Berbeda dengan pengamatan hilal secara langsung (rukyat), metode hisab ini lebih mengandalkan perhitungan astronomis untuk mengetahui kapan hilal dapat terlihat, yang pada gilirannya menentukan awal bulan Syawal.
Berdasarkan Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah No. 1/MLM/I.0/E/2025, Muhammadiyah memutuskan bahwa 1 Syawal 1446 Hijriyah akan jatuh pada Senin, 31 Maret 2025. Keputusan ini diambil berdasarkan perhitungan hilal yang dilakukan dengan metode hisab hakiki. Dalam hal ini, Muhammadiyah mengacu pada perhitungan yang sudah dilakukan jauh sebelum bulan Ramadan dimulai.
Penetapan ini juga menjelaskan bahwa pada hari itu, umat Islam yang mengikuti Muhammadiyah akan merayakan Idul Fitri 2025 tanpa menunggu hasil rukyatul hilal atau pengamatan hilal. Ini adalah salah satu kelebihan dari metode hisab karena keputusan bisa diumumkan lebih awal dan lebih terencana.
2. Penetapan oleh Pemerintah Indonesia (Kemenag)

Berbeda dengan Muhammadiyah, Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Agama (Kemenag), menggunakan pendekatan rukyatul hilal atau pengamatan langsung terhadap hilal untuk menentukan awal bulan Hijriyah. Kemenag akan mengadakan sidang isbat pada Sabtu, 29 Maret 2025 untuk mengumumkan hasil pengamatan hilal dan menetapkan tanggal 1 Syawal. Sidang isbat ini adalah proses yang melibatkan sejumlah ulama, astronom, dan perwakilan dari berbagai daerah di Indonesia yang akan mengamati hilal di berbagai titik lokasi.
Pada sidang isbat, Menteri Agama Nasaruddin Umar akan mengumumkan hasil pengamatan hilal. Jika hilal terlihat pada 29 Maret 2025, maka 1 Syawal 1446 H akan jatuh pada Senin, 31 Maret 2025. Namun, jika hilal tidak terlihat atau posisi bulan sabit masih tidak memenuhi kriteria yang ditentukan, maka Idul Fitri akan dirayakan pada Selasa, 1 April 2025.
Meskipun hasil pengamatan hilal belum dapat dipastikan, perhitungan astronomi yang dilakukan oleh para ahli astronomi dan pihak-pihak terkait di Kemenag memprediksi bahwa 31 Maret 2025 akan menjadi hari pertama bulan Syawal. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia juga memperkirakan Idul Fitri akan jatuh pada tanggal tersebut, meskipun pengumuman resmi akan dilakukan setelah sidang isbat.
3. Penetapan oleh Nahdlatul Ulama (NU)

Nahdlatul Ulama (NU), sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, cenderung mengikuti keputusan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Indonesia terkait dengan penetapan awal bulan Hijriyah. Secara tradisional, NU tidak menggunakan metode hisab seperti Muhammadiyah, melainkan lebih mengutamakan hasil rukyat atau pengamatan hilal yang dilakukan oleh pemerintah.
Oleh karena itu, meskipun NU tidak secara langsung melakukan perhitungan astronomi atau pengamatan hilal, mereka mengandalkan keputusan yang diumumkan setelah sidang isbat yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Jika hasil sidang isbat pemerintah menetapkan bahwa 31 Maret 2025 adalah 1 Syawal 1446 H, maka NU akan merayakan Idul Fitri pada tanggal tersebut.
Dalam hal ini, NU mengutamakan kesepakatan bersama dan keharmonisan dalam merayakan Hari Raya Idul Fitri secara nasional. Karena itu, masyarakat yang mengikuti NU dapat menantikan pengumuman resmi pemerintah pada 29 Maret 2025 dan merayakan Idul Fitri sesuai dengan keputusan yang diumumkan.
4. Penetapan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memiliki peran penting dalam memberikan prediksi astronomis terkait dengan perhitungan awal bulan Hijriyah, termasuk untuk penetapan tanggal 1 Syawal. BRIN, yang memiliki keahlian dalam bidang astronomi dan astrofisika, melakukan perhitungan berdasarkan metode wujudul hilal yang mengacu pada posisi hilal pada akhir bulan Ramadan.
Melalui Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika, Thomas Djamaluddin, BRIN memprediksi bahwa Idul Fitri 2025 akan jatuh pada Senin, 31 Maret 2025. Prediksi ini didasarkan pada perhitungan astronomis yang mengacu pada kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), sebuah kesepakatan antar negara-negara ASEAN untuk menentukan awal bulan Hijriyah. Berdasarkan perhitungan hilal, posisi bulan sabit pada akhir Maret menunjukkan bahwa hilal akan terlihat pada malam tersebut, yang memungkinkan perayaan Idul Fitri serentak pada 31 Maret 2025.
BRIN juga menggunakan data perhitungan astronomi lainnya yang dipadukan dengan hasil pengamatan hilal yang dilakukan oleh lembaga terkait. Prediksi ini memperlihatkan kesesuaian antara perhitungan astronomi dan pengamatan hilal, yang memungkinkan umat Islam merayakan Idul Fitri pada tanggal tersebut.
5. Kesimpulan
Berdasarkan berbagai metode perhitungan yang dilakukan oleh Muhammadiyah, NU, BRIN, dan pemerintah Indonesia, dapat disimpulkan bahwa Idul Fitri 2025 kemungkinan besar akan dirayakan pada Senin, 31 Maret 2025. Meskipun ada perbedaan dalam metode yang digunakan, baik itu metode hisab (perhitungan astronomis) oleh Muhammadiyah dan BRIN, maupun metode rukyat (pengamatan hilal) oleh pemerintah dan NU, hasilnya diperkirakan akan menunjukkan tanggal yang sama.
Namun, keputusan resmi mengenai tanggal 1 Syawal 1446 H akan diumumkan setelah sidang isbat yang dilakukan oleh Kementerian Agama pada Sabtu, 29 Maret 2025. Masyarakat Indonesia dapat menantikan pengumuman resmi tersebut untuk memastikan tanggal pasti perayaan Idul Fitri di negara ini.
Secara umum, meskipun ada perbedaan metode dalam penentuan tanggal, yang terpenting adalah bahwa Idul Fitri tetap menjadi momen kebahagiaan dan perayaan bagi umat Muslim di Indonesia. Apapun metode yang digunakan, Idul Fitri adalah waktu untuk merayakan kemenangan setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh. Oleh karena itu, baik itu pada tanggal 31 Maret atau 1 April 2025, perayaan Idul Fitri tetap membawa kebahagiaan dan kedamaian bagi umat Muslim di seluruh dunia.
BACA JUGA: Kejanggalan Hilangnya Iptu Tomi: Saat Pengejaran KKB, Minta Uang Rp 30 Juta Ke Istri
BACA JUGA: 3 Cara Mencari Rest Area Terdekat Di Perjalan Mudik Lebaran 2025
BACA JUGA: California Secara Massal ATM Kripto Jadi Cuma USD 1.000 Per Hari